Senja Sore Ini (Cerpen)

Diposting oleh Summer Coffee on Minggu, 18 Maret 2012


Hari ini cuaca terik sekali. Panas. Badanku bercucuran penuh dengan keringat. “Sialan.....” gumamku dalam setiap langkah yang ku ayunkan. “Semua ini gara-gara Papa. Harusnya aku tak perlu bersusah payah berjalan kaki seperti ini jika ada motorku, brengseeekkkkk.....” Gerutuku lagi dengan menendang apapun yang ada di depanku.

Yapp, sudah tiga hari ini aku harus berjalan kaki sepulang sekolah menuju rumah. Sejak motorku di sita oleh Papa gara-gara beliau kesal melihat nilaiku yang terus anjlok dan dan sering bolos sekolah.

“Kamu ini sudah kelas dua, seharusnya belajar dengan rajin bukan malah sering bolos seperti ini....”

Seperti biasa, aku hanya bisa diam pura-pura mendengarkan. Ini bukan pertama kali Papa memarahiku habis-habisan. Sudah berulang kali, bahkan puluhan kali. Papa orangnya memang tegas dan sangat disiplin. Sama sekali berbeda denganku, yang lebih terkesan slenge’an dan tidak punya aturan.

Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku mempunyai adik perempuan. Adik perempuan yang cantik, secantik ibuku waktu muda. Katanya sih gitu. Hahahahaa*
Dia yang membuatku selalu terhibur dengan semua keusilannya saat Papa dan Mama sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

“Pokoknya mulai hari ini, tidak ada yang namanya sepeda motor. Uang jajan kamu juga Papa kurangi. Kesabaran Papa sudah habis.”

“Ayolah, Pa, kasih Rendi kesempatan satu kali lagi, Rendi janji akan belajar dengan baik, asalkan motor Rendi tidak di ambil. Nanti apa kata temen-temen Rendi jika mereka tau Rendi tidak bawa motor, Papa mau Rendi Jadi Bahan Tertawaan mereka semua”, selorohku merengek pada Papa.

“Sekali Papa bilang tidak tetap tidak. Papa sudah capek melihat ulah kamu. Papa hanya akan mengembalikan motor kamu, jika kamu berhasil meraih juara kelas semester ini. Kalau tidak, jangan berharap kamu akan menaiki motor ini lagi,” ancam papa membuatku tercengang.

“Ohh, Tuhan...dapat sepuluh besar saja aku tak pernah, apalagi harus juara kelas”, gumamku dalam hati, sambil berpikir alasan apalagi yang harus ku katakan pada teman-temanku besok jika mereka bertanya kemana motorku.

***

Aku terus melangkah. Dengan langkah yang sudah mulai gontai. “Tinggal sedikit lagi, aku akan sampai..” gumamku dengan nafas yang sudah mulai ngos-ngosan. “Akhirnya.. Aku temukan juga ne rumah...” kataku lega sesampainya aku di depan pagar rumah. Tapi, belum sampai sepatuku ku lepas, saat secara tidak sengaja aku mendengar percakapan papa dan mama di dalam kamar mereka. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan, aku putuskan untuk menguping pembicaraan mereka. Aku mulai membuka pintu secara perlahan. Ku langkahkan kakiku dengan sangat pelan dan hati-hati agar mereka tak tahu aku sudah pulang. Samar-samar ku dengar pembicaraan mereka. Sepertinya sesuatu yang penting.

“Ngomongin apa sih mereka...” ucapku penasaran.
“Ma...Papa rasa ini waktu yang tepat untuk megatakan pada rendi siapa sebenarnya dia...” kata Papa lirih ku dengar.
“Ada apa ini, kenapa mereka menyebut namaku...” aku semakin penasaran.
“Bukankah rendi juga sudah besar, Papa pikir rendi cukup dewasa untuk menerima apa yang nanti kita katakan padanya...”
“Apa kita tidak terburu-buru Pa. Mama cuma takut. Takut kalau Rendi tau dia bukan anak kandung kita, dia jadi membenci kita. Dan Mama belum siap untuk itu...”

Degggg..... Aku terkejut mendengar apa yang Mama katakan. Seketika jantungku seolah berhenti berdetak. Waktu seolah berhenti berputar. Mendadak perasaanku menjadi kacau. Penuh dengan kebencian dan kekecewaan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka pintu dan masuk ke kamar mereka.

“Apa benar yang Papa dan Mama katakan. Apa benar Rendi bukan anak kandung Papa dan Mama...” tanyaku dengan nada penuh emosi.
“Jawab Ma...Pa...”
“Rendi..dengerin Papa dulu, Papa bisa menjelaskan ini semua”. Belum sempat Papa menjelaskan, aku segera keluar dari kamar mereka. Sejurus kemudian aku berlari dan meraih tasku.

“Rendi....Rendi...dengerin papa dulu..” suara papa semakin lantang memanggilku. “Kak Kendi...Kakak mau kemana,” teriak Icha adik semata wayangku yang juga ikut memanggilku. Atau kini lebih tepatnya adik tiriku. Tapi aku tak menghiraukannya. Aku tetap berlari dan bergegas keluar dari rumah.

***

Aku terus berjalan tanpa tau aku akan kemana. Dalam hati, aku menagis. Kenapa aku tahu ini semua di saat aku mulai mengerti kebahagiaan dalam sebuah keluarga.

Dari kejauhan senja menyapaku disini yang penuh kesedihan. Hingga perlahan hari beranjak malam, dan aku merasa sangat lelah, kuputuskan untuk istirahat di sebuah emperan toko yang berada di seberang jalan.

Entah aku berada dimana sekarang. Anganku masih melayang mengingat kejadian tadi siang. Semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Aku senang karena pada akhirnya aku tahu semua ini. Tapi aku juga kecewa menerima kenyataan bahwa aku bukan anak kandung mereka. Dan mereka tak pernah memberitahuku sebelumnya, meskipun pada akhirnya aku tau semuanya.

“Tuhan...kenapa semua ini terjadi padaku. Sungguh jika aku bisa memilih, aku memilih untuk tidak dilahirkan, jika pada akhirnya aku harus dihadapkan pada kenyataan pahit seperti ini...” air mataku mencair, jatuh secara perlahan dan akhirnya jatuh tak terbendung.

“Sekarang aku tahu, kenapa papa sering memarahiku. Sampai-sampai aku tidak boleh lagi memakai motorku lagi. Karena aku bukan anak mereka..."

***

Hari terus berganti, lembaran hari berikutnya pun sama, aku terus berjalan dari toko satu ke toko yang lain. Dari jalan satu ke jalan yang lain. Dari Terminal Satu ke terminal yang lain.

Sejak aku keluar dari rumah, aku memang memutuskan untuk hidup dijalanan. Menjadi pengamen. Aku tak peduli lagi dengan gengsi atau reputasi. Aku hanya berpikir bagaimana aku bisa bertahan hidup, saat aku sadar tak ada lagi yang menanggung hidupku. Apapun caranya, sampai pada suatu hari aku mengenal Asep.

Aku mengenalnya di sebuah terminal kecil di kota ini. Saat itu uangku sudah habis, dan aku tak tahu lagi harus membeli makanan dengan apa. Sementara perutku sudah menggerutu karena seharian belum makan. Saat itulah tiba-tiba Asep datang dan menawarkan sebungkus nasi padaku. Asep juga yang mengajariku bermain gitar, sampai pada akhirnya mengajakku menyusuri jalanan yang berdebu bermodalkan gitar, hanya untuk mencari uang recehan dari mereka yang kasihan pada kami. Paling tidak, dengan uang ini, aku bisa bertahan hidup. Tapi entah sampai kapan.

Sungguh kini aku baru sadar, betapa sulitnya mencari uang. Betapa sukarnya hidup tanpa satu orang pun yang kita sayang.

***

Tiga bulan kini telah berlalu, kulalui tanpa kehadiran mereka, orang-orang yang biasanya selalu mengisi hariku. Sesekali aku mulai sedikit terbiasa. Tapi ada saatnya dimana aku merasakan rindu yang sangat dalam pada mereka.

Kadang aku merasa iri saat melihat kehangatan dan kebahagiaan yang tercipta dalam keluarga orang lain. Mereka bisa bercanda gurau. Mereka mendapat kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Mereka bermain gembira dengan adik-adik mereka.

“Beruntung banget mereka...”
“Kamu juga berutung, Ren. Hanya belum saatnya kebahagiaan itu datang di hidupmu”, ucap Asep.
"Semoga aja, Sep...." kataku sambil berlalu meninggalkan Asep.

Malam mulai datang tampakkan gelapnya. Dan lagi-lagi, emperan toko menjadi rumah baruku setiap malam untuk berteduh. Tak ada lagi selimut tebal yang biasanya menyelimuti sekujur tubuhku dari dinginnya malam datang. Yang ada hanya selembar kertas koran dan beralaskan kardus makanan, yang setiap harinya menjadi sahabat baikku saatku terjaga dalam mimpi.

***

“Rendi...bangun Nak...” terdengar lirih suara yang membuatku terbangun hari ini. “Siapa sih... ganggu orang tidur aja. Masih ngantuk nih”, kataku kesal. Dan betapa terkejutnya aku saat aku membuka mata dan melihat siapa yang ada di depanku. Dia adalah papa. Papa tiriku.

“Buat apa anda kesini. Dari mana anda tahu saya ada disini.”
“Rendi, dengerin papa dulu. Papa tahu kamu marah pada kami semua. Tapi biarkan papa menjelaskan ini semua. Papa.....”

“Sudahlah, percuma anda kesini. Saya juga bukan anak anda. Hanya buang-buang waktu anda berada disini. Lebih baik anda pulang dan urusin perusahaan anda,” kataku memotong perkataan papa.

“Rendi, kamu memang bukan anak kandung papa dan mama. Tapi papa dan mama sudah menganggapmu sebagai anak dari darah daging kami sendiri. Kami yang mendidik dan merawatmu dari kecil hingga dewasa. Jadi tidak alasan bagi papa dan mama untuk menganggapmu sebagai anak tiri”.

“Kami semua menyayangimu. Apalagi icha. Setiap hari dia bertanya pada papa kemana kamu pergi,” ujar papa membuatku terdiam karena teringat icha. Icha, adikku yang masih kelas 3 SD, aku juga rindu padanya.

“Icha menitipkan ini pada papa untuk kamu”, kata papa sambil memberikan sebuah amplop warna biru kepadaku. Entah apa isinya.

Ku buka amplop itu secara perlahan. Ternyata ada subuah surat di dalamnya. Aku buka surat itu dan ku baca.

“Untuk kak rendi,
Kak, dimana kakak sekarang. Kakak baik-baik sajakan? Kenapa kakak tidak pernah pulang. Icha kangen kak rendi. Setiap hari icha selalu berdoa pada Tuhan agar kak rendi cepet pulang. Icha masih ingin belajar bersepeda bersama kak rendi. Cepet pulang ya, Kak. Kami semua merindukanmu. Ini adalah uang tabungan icha yang icha sisihkan untuk kak Rendi. Biar kak rendi disana bisa beli makanan. Icha sayang kak rendi..”
Lembaran uang seribuan berjumlah lima ribu rupiah terselip di dalam aplop tersebut. Aku tertunduk, air mataku sudah tak terbendung lagi. Meleleh dan akhirnya jatuh membasahi lembaran surat dari icha.

“Icha.......”, teriakku lirih dalam isak tangisku.
“Rendi, pulanglah Nak. Kami semua menyayangimu. Ibumu juga selalu menangis setiap malam karena merindukanmu.” Aku masih terdiam dalam tangisku.

“Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu. Papa akan menunggumu pulang”, kata papa sambil beranjak meninggalkanku yang masih berderaian air mata.

“Pa...” teriakku memanggil papa yang masih belum jauh melangkah.
“Bolehkah rendi ikut papa pulang sekarang?”
"Apa Rendi juga masih boleh memanggil anda Papa?" tanyaku lagi. Papa tersenyum. Segera papa mendekatiku, memlukku erat.

“Tentu saja boleh, Nak. Itu adalah rumahmu juga. Dan kamu adalah anak papa. Kebanggaan papa. Kebanggaan kami semua. Ayo kita pulang. Icha pasti akan senang sekali”, ujar Papa sambil merangkulku.

Dari sisi yang berlainan, aku melihat Asep yang nampak tersenyum kepadaku. Dan aku yakin, itu adalah senyum kebahagiaan karena dia melihatku bisa berkumpul lagi dengan keluargaku. Bukan senyum sinis karena aku meninggalkannya atau rasa iri.

Aku melambai padanya. Asep juga melambaikan tangannya, lalu beranjak pergi sambil menenteng gitar kesayangannya. Kami pun terus melangkah berpijakkan kebahagiaan.

"Terimakasih Asep...."
"Kau benar. Kini kebahagiaan itu datang...."

***

“Kak rendi........” teriak Icha saat melihatku memasuki rumah dengan papa. Ku peluk erat tubuhnya. Rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan bahagia seperti ini.

“Kak rendi kemana saja. Icha kangen kak rendi. Icha juga sayang kak rendi. Jangan pergi lagi ya, Kak”, rengek Icha di pelukanku.

“Iya, adekku sayang. Kakak janji, kakak nggak akan ninggalin Icha lagi. Kak rendi juga sayang icha”, jawabku sambil mecium keningnya.

“Rendi... Maafin Mama juga”, kata Mama seraya memelukku. Mama yang matanya terlihat lebam. Mungkin karena setiap malam selalu menangis.

“Maafin Mama ya, Nak. Mama menyayangimu. Kamu sudah mama anggap seperti anak kandung mama sendiri. Rendi maukan maafin mama”,
“Rendi yang minta maaf, Ma, Rendi yang tak tahu diri. Maafin rendi juga ya, Ma”, kataku dalam pelukan mama.

Kini semuanya terjawab. Kini aku sadar bahwa aku butuh kehadiran sebuah keluarga dalam hidupku. Seberapa banyak pun kebahagiaan yang ku dapat, takkan pernah lengkap tanpa kehadiran sebuah keluarga.

Meskipun di sisi lain, aku bukan anak kandung mereka. Tapi setidaknya, aku punya orang-orang yang kusayangi. Aku punya alasan untuk tetap tersenyum di dunia ini. Lebih dari itu, mereka adalah pelangi yang menghadirkan warna-warni keindahan dan kebahagiaan dalam setiap lembaran hidup yang ku jalani. Dan aku bahagia memiliki mereka.

***

Nampak senja menyapaku kembali di sore ini. Tapi kali ini aku tak sendiri, karena kini aku bersama mereka. Bersama orang-orang yang kusayangi.

“Lihatlah senja itu, seperti itulah kamu buat kami. Kau datang memberi keindahan dan kebahagiaan dalam keluarga ini. Sama seperti senja yang selalu hadirkan keindahan, meski senja bukan milik kita..” kata Papa lalu menepuk pundakku. Aku tersenyum.

Related Post:

Komentari

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar